Trump Dianggap Sebagai Musuh oleh Sebagian Masyarakat Eropa
Sejumlah kalangan masyarakat di Eropa mulai memandang mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai figur yang kontroversial dan bahkan dianggap sebagai “musuh” kepentingan Eropa. Pandangan ini kembali menguat seiring meningkatnya tensi politik global serta pernyataan-pernyataan Trump yang dinilai merugikan hubungan transatlantik.
Selama masa kepemimpinannya, Trump kerap melontarkan kritik keras terhadap Uni Eropa (UE), menyebutnya tidak adil dalam perdagangan dan menuding negara-negara Eropa terlalu bergantung pada Amerika Serikat dalam urusan keamanan, khususnya melalui NATO. Sikap tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi sebagian warga Eropa dan elit politik hingga kini.
Penolakan terhadap Trump terlihat dalam berbagai survei opini publik di sejumlah negara Eropa Barat, seperti Jerman, Prancis, dan Belanda. Banyak responden menilai kebijakan “America First” yang diusung Trump bertentangan dengan nilai kerja sama multilateral yang selama ini dijunjung Eropa.
Selain itu, dukungan Trump terhadap kebijakan nasionalisme, penarikan AS dari sejumlah perjanjian internasional, serta sikap skeptis terhadap perubahan iklim turut memperburuk citranya di mata publik Eropa. Isu-isu tersebut dianggap berdampak langsung terhadap stabilitas global dan masa depan lingkungan.
Meski demikian, tidak semua masyarakat Eropa memiliki pandangan seragam. Sebagian kelompok konservatif dan populis di Eropa masih menunjukkan simpati terhadap gaya kepemimpinan Trump, terutama terkait isu imigrasi dan kedaulatan nasional.
Dengan kembali menguatnya peran Trump dalam politik Amerika Serikat, hubungan AS–Eropa diperkirakan akan kembali diuji. Banyak pihak di Eropa berharap kerja sama strategis tetap terjaga, terlepas dari perbedaan pandangan politik yang semakin tajam.





