Tiga rumah sakit di Iran dilaporkan kewalahan menangani lonjakan korban tewas dan luka seiring berlanjutnya gelombang protes anti-pemerintah di berbagai wilayah negara tersebut.
Sejumlah tenaga medis mengatakan kepada BBC bahwa fasilitas kesehatan mereka berada dalam kondisi darurat akibat banyaknya pasien dengan luka tembak, termasuk tembakan langsung ke bagian vital tubuh.
Seorang petugas medis di salah satu rumah sakit di Teheran menyebut banyak korban mengalami luka tembak di kepala dan dada, dikutip dari BBC, Minggu (11/1/2026).
“Ada tembakan langsung ke kepala para pemuda, juga ke jantung mereka,” ujarnya. Seorang dokter lain mengatakan rumah sakit mata utama di ibu kota telah menetapkan status krisis karena membludaknya pasien.
Dua tenaga medis yang berbicara kepada BBC mengonfirmasi bahwa mereka merawat korban luka akibat peluru tajam maupun peluru karet. Mereka menyebut jumlah korban terus bertambah, sementara kapasitas rumah sakit semakin terbatas.
Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat pada Jumat kembali memperingatkan bahwa pembunuhan terhadap pengunjuk rasa akan dibalas dengan respons militer. Pemerintah Iran menuding Washington telah mengubah aksi protes damai menjadi “tindakan subversif yang disertai kekerasan dan vandalisme secara luas”.
Presiden AS Donald Trump menanggapi perkembangan itu melalui media sosial. “Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulisnya.
Aksi protes dipicu oleh kesulitan ekonomi dan dimulai di Teheran sekitar dua pekan lalu. Sejak itu, demonstrasi meluas ke lebih dari 100 kota dan desa di berbagai provinsi. Ratusan demonstran diyakini tewas atau terluka, sementara banyak lainnya ditahan. BBC Persia telah mengonfirmasi identitas 26 korban tewas, termasuk enam anak.
Korban juga jatuh dari pihak aparat keamanan. Salah satu organisasi hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 14 anggota pasukan keamanan tewas dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
BBC Persia memverifikasi bahwa 70 jenazah dibawa ke Rumah Sakit Poursina di Rasht pada Jumat malam. Karena kamar jenazah penuh, mayat-mayat tersebut kemudian dipindahkan. Seorang sumber rumah sakit menyebut pihak berwenang meminta keluarga korban membayar sekitar 7 miliar rial untuk membawa pulang jenazah guna dimakamkan.
Peliputan dari dalam Iran menjadi sangat terbatas. BBC dan sebagian besar media internasional tidak dapat melaporkan langsung dari lokasi, sementara pemadaman internet hampir total sejak Kamis malam menyulitkan proses verifikasi informasi.
Seorang staf rumah sakit di Teheran menggambarkan kondisi yang ia sebut “sangat mengerikan”. Menurutnya, jumlah korban luka begitu besar hingga tenaga medis tidak sempat melakukan tindakan penyelamatan dasar seperti CPR. “Sekitar 38 orang meninggal. Banyak yang tewas begitu tiba di ruang gawat darurat,” katanya.
Ia menambahkan, keterbatasan ruang membuat jenazah ditumpuk di kamar mayat, bahkan hingga ke ruang salat. “Yang meninggal atau terluka sebagian besar anak muda berusia 20 hingga 25 tahun,” ujarnya.
Seorang dokter lain yang menghubungi BBC melalui sambungan satelit Starlink mengatakan Rumah Sakit Farabi, pusat spesialis mata utama di Teheran, telah mengaktifkan mode krisis. Seluruh layanan non-darurat dan operasi elektif ditangguhkan, sementara staf tambahan dipanggil untuk menangani kasus darurat.
Dalam menghadapi demonstrasi, pasukan keamanan Iran diketahui kerap menggunakan senapan yang menembakkan peluru berisi pelet selain peluru karet, yang berpotensi menyebabkan luka serius hingga kematian.





