Michael Carrick tidak memerlukan strategi yang kompleks untuk menaklukkan Manchester City. Pada pertandingan sengit Derbi Manchester di Old Trafford, Sabtu (18/1/2026) malam WIB, Setan Merah menampilkan permainan luar biasa dengan pendekatan yang justru sangat simpel.
Hasil akhir 2-0 menjadi bukti nyata superioritas tim tuan rumah atas rival sekota mereka. Namun, angka di papan skor sebenarnya belum sepenuhnya menggambarkan bagaimana dominasi United berlangsung selama 90 menit.
Tim asuhan Josep Guardiola dibuat frustrasi, bukan karena kalah dari segi penguasaan bola, melainkan akibat efektivitas serangan MU yang sangat tajam. Tiga gol yang dibatalkan karena offside dan dua tembakan yang menghantam mistar gawang membuktikan betapa dahsyatnya tekanan yang diberikan tuan rumah.
Kiper Man City, Gianluigi Donnarumma, dipaksa bekerja ekstra keras dengan sejumlah penyelamatan brilian agar timnya tidak dipermalukan dengan kekalahan telak. Lalu, apa sebenarnya kunci sukses Carrick dalam pertandingan debut besarnya tersebut?
Carrick sepertinya sengaja meninggalkan pendekatan taktis yang rumit yang sempat diterapkan pada era Ruben Amorim. Tidak ada lagi ketergantungan pada sistem wing-back yang kaku atau pola serangan yang terkesan lambat dan terlalu terstruktur.
Sebaliknya, dia menghidupkan kembali filosofi "United Way" yang telah lama menghilang sejak masa kejayaan Sir Alex Ferguson: mengandalkan kecepatan, intensitas maksimal, dan serangan langsung yang efisien.
Meskipun membiarkan City unggul dalam hal penguasaan bola, MU justru tampak jauh lebih mengancam setiap kali mendapatkan peluang menyerang. Transisi cepat dari bertahan ke menyerang membuat barisan belakang City yang tengah dilanda cedera pemain berantakan.
"Bukan kapasitas saya untuk membedah di depan umum. Kami hanya ingin bermain dengan kekuatan kami," ujar Carrick kepada Sky Sports usai laga.





