Di tengah hutan lebat Gunung Ciremai, hidup seekor macan tutul hitam bernama Slamet Ramadan yang menarik perhatian bukan hanya karena keberadaannya, tapi kisah hidupnya yang unik.
Slamet bukanlah macan tutul biasa di Gunung Ciremai. Ia berasal dari kawasan hutan Desa Cimalingping, Subang, di mana dulu sering terlibat konflik dengan warga karena masuk ke pemukiman. Untuk keselamatan bersama, Balai Besar KSDA Jawa Barat menangkap Slamet dan melepasliarkannya di Gunung Ciremai pada 2019.
Nama “Slamet Ramadan” dipilih karena satwa itu selamat dari konflik dengan manusia saat bulan Ramadan. Ketika dilepas, Slamet berusia tujuh tahun dengan tubuh relatif kecil. Karena di Ciremai saat itu populasi macan tutul masih minim, kehadirannya diharapkan dapat memperkuat populasi satwa carnivora tersebut.
Seiring waktu, Slamet terlihat mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Pada pemantauan camera trap terakhir tahun 2023, posturnya jauh lebih besar dan sehat dibanding saat pertama kali datang, menunjukkan bahwa ia berhasil memenuhi kebutuhan hidupnya di habitat baru. Hingga kini, usia Slamet diperkirakan mencapai 10 tahun.
Sebagai macan tutul kumbang jantan, Slamet memiliki warna kulit hitam pekat dengan pola tutul yang unik — pola yang cuma terlihat jelas saat malam hari lewat rekaman camera trap.
Gunung Ciremai kini juga dihuni macan tutul betina bernama Rasi, yang dilepasliarkan dari Pusat Penyelamatan Satwa Cikanaga Sukabumi. Kedua satwa ini menjadi predator puncak di kawasan taman nasional ini, menjaga keseimbangan rantai makanan.
Koordinator Ekosistem Hutan Balai TNGC mengajak masyarakat agar terus menjaga kelestarian alam dan satwa liar, termasuk memberi ruang bagi macan tutul untuk hidup tanpa gangguan.





