Kupang – Masyarakat pesisir di Nusa Tenggara Timur (NTT) diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob setelah fenomena Bulan Baru diprediksi dapat meningkatkan ketinggian air laut di beberapa wilayah pesisir. Fenomena astronomi ini diperkirakan memicu peningkatan pasang laut maksimum sehingga meningkatkan risiko banjir pesisir di sejumlah titik pantai di NTT.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui informasi resmi dari akun media sosial resminya mengungkapkan bahwa fase Bulan Baru yang terjadi belakangan ini menjadi salah satu faktor utama meningkatnya gaya tarik gravitasi antara Bulan dan Bumi. Kondisi ini berpotensi membuat air laut naik lebih tinggi dari biasanya dan meluap ke daratan pesisir.
Peringatan tersebut sejalan dengan prediksi BMKG terkait potensi banjir rob yang tidak hanya berdampak pada permukiman di pesisir tetapi juga pada aktivitas ekonomi masyarakat, seperti kegiatan pelabuhan dan usaha perikanan. Air laut yang masuk ke daratan bisa mengganggu aktivitas harian warga serta sarana transportasi di wilayah pesisir.
Fenomena Bulan Baru merupakan fase ketika posisi Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, yang meskipun tidak terlihat dari Bumi, memiliki pengaruh kuat terhadap pasang surut laut melalui gaya tariknya. Ketika fase tersebut bertepatan dengan kondisi astronomi tertentu, risiko pasang laut maksimum semakin meningkat.
BMKG meminta masyarakat di pesisir NTT untuk terus memantau prediksi cuaca maritim dan informasi pasang surut air laut serta menyiapkan langkah antisipatif guna meminimalkan dampak dari potensi banjir rob. Warga yang tinggal di kawasan rendah di pesisir disarankan siaga saat level air laut diprediksi mencapai puncaknya.
Dengan kondisi cuaca dan musim yang tetap dinamis, BMKG juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya memperhatikan fenomena Bulan Baru, tetapi juga mengikuti update informasi meteorologi lainnya demi keselamatan dan kesiagaan bersama.





