Tangis ibunda Affan Kurniawan, pengemudi ojek online (ojol) yang tewas usai dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri, kembali pecah saat Presiden Prabowo Subianto melayat ke rumah duka pada Jumat (29/8/2025) malam.
Momen haru itu terjadi ketika Presiden Prabowo memasuki rumah duka dan bertemu langsung dengan kedua orang tua Affan. Kepala Negara sempat menyampaikan duka cita mendalam sebelum akhirnya mendengar keluhan penuh kesedihan dari sang ibu.
“Anak saya udah enggak ada, Pak,” ujar ibunda Affan dengan suara terbata disertai tangisan yang tidak berhenti sejak siang hari.
Mendengar kalimat itu, Prabowo tampak terdiam sejenak. Ia kemudian memeluk erat sang ibu, menepuk pundaknya tiga kali, dan berusaha menenangkan dengan kata-kata singkat. “Iya, sabar-sabar,” ucap Presiden dengan suara lembut.
Di kesempatan yang sama, Prabowo juga menyampaikan bela sungkawa kepada ayah Affan. Ia menyalami sekaligus memeluk hangat sembari berkata, “Saya turut bela sungkawa, ya. Baik-baik, ya.” Ucapan serupa juga disampaikan kepada ibunda Affan yang berdiri di samping suaminya.
“Ini ibunya ya? Ibu, saya turut berbela sungkawa. Iya, saya doakan ibu juga baik-baik, ya Bu,” tutur Prabowo.
Dalam perbincangan singkat itu, Prabowo sempat bertanya mengenai jumlah anak dalam keluarga. Sang ayah menjawab bahwa mereka memiliki tiga orang anak, termasuk Affan yang kini telah tiada. Dengan suara lirih, ia menambahkan, “Saya nggak nyangka Bapak bisa ke sini.”
Affan Kurniawan meninggal dunia dalam aksi unjuk rasa di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis (28/8/2025) malam. Ia dikenal sebagai tulang punggung keluarga yang tinggal di kontrakan sempit berukuran 3x11 meter di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Menurut keterangan Muri, pemilik kontrakan, Affan adalah sosok pekerja keras yang setiap hari berangkat pagi untuk mencari nafkah. “Dia sregep banget anaknya, pagi jam 05.30 udah keluar rumah. Siang istirahat, sore keluar lagi,” kenang Muri.
Kehilangan Affan menjadi pukulan berat bagi keluarga yang sangat bergantung padanya. Orang tua yang bekerja serabutan, kakak yang juga berprofesi sebagai ojol, serta adik yang masih duduk di bangku SMP, kini harus menata ulang hidup mereka tanpa sosok penopang utama keluarga.