Berita mengejutkan datang dari Santiago Bernabéu, markas Real Madrid, setelah klub raksasa LaLiga mengumumkan kepergian pelatih Xabi Alonso hanya ± tujuh bulan sejak pensiun Carlo Ancelotti dan dirinya diangkat sebagai pelatih kepala. Keputusan itu dibuat dengan kesepakatan bersama antara pihak klub dan Alonso, menandai berakhirnya salah satu periode pelatih yang paling dinantikan di ibu kota Spanyol.
Alonso, yang merupakan legenda klub sebagai pemain (2009â2014) dan kembali ke Madrid setelah sukses besar sebagai pelatih di Bayer Leverkusen, meninggalkan posisinya tanpa gelar utama dan dengan sejumlah tantangan besar yang tampaknya menjadi akar dari keputusan ini.
Sejak tiba di musim panas 2025, Alonso membawa antusiasme tinggi karena rekam jejaknya yang luar biasa di Leverkusen, termasuk memenangkan gelar Bundesliga dan mencapai final Liga Europa. Namun, transisi itu tidak berjalan mulus di Madrid. Beberapa hasil buruk termasuk kekalahan di Liga Champions dan di domestik membuat tekanan meningkat. Kekalahan terakhir 3-2 dari Barcelona di final Supercopa de España tampaknya menjadi titik balik yang memperkuat tekanan atas keberadaannya.
Madrid, yang sebelumnya sempat memuncaki klasemen LaLiga, justru terdorong turun ke posisi kedua, jauh di belakang rival utama Barcelona. Hasil ini menunjukkan bahwa Real Madrid tidak mampu menjadi favorit juara yang konsisten di bawah Alonso, yang kemudian melemahkan kepercayaan manajemen terhadap arah tim.
Tidak hanya hasilnya yang menjadi masalah, sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Alonso mengalami masalah hubungan dengan beberapa pemain kunci tim. Strategi taktiknya yang intens, sistem yang ketat, dan gaya manajemen yang dianggap terlalu keras membuat beberapa pemain besar seperti Vinicius Jr. dan Federico Valverde dikabarkan tidak sepenuhnya mendukung visi pelatih asal Spanyol tersebut.
Beberapa analis bahkan menyoroti bahwa beberapa pemain mulai menunjukkan ketidakpuasan terbuka di ruang ganti, yang bisa menjadi bagian dari alasan mengapa proyek Alonso di Madrid tidak bertahan lama. Ketidakcocokan ini, menurut laporan media sport, juga membuat manajemen ragu akan keberlanjutan periode ini dalam jangka panjang.
Selain masalah performa dan hubungan internal, sebagian pengamat juga mencatat adanya perbedaan filosofis antara Alonso dan struktur manajerial klub. Mantan pemain dan komentator Jorge Valdano menilai bahwa Alonso tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari klub sejak awal masa jabatannya, sebuah situasi yang membuat posisinya semakin sulit. Ketika presiden klub Florentino Pérez disebutkan tidak memberikan dukungan penuh di depan umum, ini menjadi salah satu tanda bahwa hubungan kedua pihak tidak sempurna.
Menurut Valdano, hal tersebut mencerminkan âketidakstabilan sejak hari pertamaâ bagi Alonso di BernabĂ©u, terutama di masa dengan ekspektasi tinggi untuk hasil instan dan gaya permainan yang menarik.
Beberapa analis sepak bola menggarisbawahi bahwa taktik Alonso sering membawa gaya yang terbilang rigid dan intens, sedangkan beberapa pemain kunci merasa lebih nyaman dengan gaya yang lebih fleksibel atau manajemen yang lebih human-centred. Perbedaan ini sempat memicu pesan kritik di media sosial dan diskusi hangat di antara basis fans Madrid.
Pengamat juga menilai bahwa gaya Alonso, yang sering kali menuntut komitmen disiplin tinggi dalam pola bertahan dan pressing, bukan gaya yang langsung diterima semua lapisan skuad Real Madrid yang dipenuhi talenta besar dengan ego besar pula.
Real Madrid sendiri menegaskan bahwa keputusan perpisahan ini dilakukan secara damai dan sejalan oleh kedua belah pihak, tanpa penghinaan atau kekerasan publik. Dalam pernyataannya, klub menyatakan bahwa Alonso âakan selalu menjadi bagian dari keluarga besar Real Madridâ dan mengapresiasi semua kerja kerasnya.
Penggunaan frase âby mutual agreementâ dalam rilis klub menunjukkan bahwa meskipun ada banyak tekanan dan ketidakcocokan, kedua belah pihak memilih jalan keluar yang terhormat tanpa drama panjang di ruang publik.
Kepergian Xabi Alonso dari Real Madrid yang relatif cepat, hanya setelah tujuh bulan menjabat sebagai pelatih kepala, bukan sekadar berita mengejutkan, tetapi juga mencerminkan tekanan tinggi, harapan besar, dan ketidakcocokan internal yang sering kali menyertai proyek besar di klub sepak bola elit. Performa yang kurang stabil, ketegangan dengan pemain bintang, perbedaan filosofi klub-pelatih, serta gaya manajerial yang tidak sepenuhnya diterima ruang ganti menjadi alasan utama di balik keputusan ini meskipun dilakukan secara âby mutual agreementâ.





