AS Klaim Hantam Hampir 2.000 Target di Iran, Disebut Terbesar Sejak Perang Irak 2003
Militer Amerika Serikat (AS) menyatakan telah menyerang hampir 2.000 target militer di Iran dalam operasi besar-besaran sejak akhir Februari 2026 — langkah yang menurut pejabat Washington jauh lebih luas daripada serangan awal dalam invasion Iraq pada 2003.
Menurut pernyataan Komando Pusat Angkatan Darat AS (CENTCOM), gelombang serangan ini melibatkan berbagai macam sistem senjata dan ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran, termasuk pertahanan udara, fasilitas rudal balistik, dan infrastruktur yang dianggap bisa mengancam pasukan AS atau sekutu di kawasan.
Laksamana Brad Cooper, kepala CENTCOM, mengatakan dalam sebuah pesan video bahwa lebih dari 2.000 serangan telah dilakukan dalam 24 jam pertama operasi, dan volume serangan itu “sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan tahap awal kampanye shock and awe di Irak pada 2003”.
Laporan lain menyebutkan bahwa serangan gabungan AS dan Israel telah menewaskan ratusan orang di Iran serta menghancurkan sejumlah kapal dan platform militer, meskipun angka korban ini belum bisa diverifikasi secara independen.
Insiden ini merupakan bagian dari eskalasi militer yang lebih luas di kawasan Teluk, di mana Iran telah membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai lokasi, termasuk pangkalan dan fasilitas diplomatik AS serta target lain di wilayah Teluk Persia.
Konflik yang berkembang ini telah memicu kekhawatiran internasional akan meningkatnya ketegangan regional dan dampaknya bagi stabilitas serta harga energi global.





