Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat mulai dipandang memiliki potensi yang lebih luas. Sejumlah akademisi dan pengamat kebijakan menilai program tersebut dapat direorientasikan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional melalui pemberdayaan rantai pasok lokal.
Menurut para pakar, besarnya kebutuhan bahan pangan untuk mendukung pelaksanaan MBG dapat menciptakan permintaan yang stabil bagi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha mikro dan kecil. Dengan strategi yang tepat, program ini tidak hanya meningkatkan kualitas gizi penerima manfaat, tetapi juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru.
Baca Juga: Truk Terbakar di Kalideres, Kepulan Asap Hitam Sempat Membubung Tinggi
Reorientasi tersebut dinilai penting mengingat MBG merupakan program berskala besar yang menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Kebutuhan bahan baku seperti beras, sayuran, telur, daging, ikan, dan buah-buahan dapat menjadi pasar yang menjanjikan bagi produsen lokal apabila pengadaan dilakukan secara terintegrasi dengan potensi daerah masing-masing.
Selain itu, keterlibatan UMKM dalam proses pengolahan, distribusi, dan penyediaan bahan pangan juga diyakini mampu meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat lokal. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan bergizi, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat dalam rantai produksi dan distribusi.
Baca Juga: AS dan Iran Nyatakan Damai, Namun Kesepakatan Akhir Masih Bersifat Tentatif
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa orientasi ekonomi tidak boleh menggeser tujuan utama MBG sebagai program peningkatan kualitas gizi masyarakat. Aspek keamanan pangan, kualitas bahan baku, serta standar gizi tetap harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan yang diterapkan.
Pemerintah juga didorong untuk memperkuat tata kelola, transparansi, serta sistem pengawasan agar potensi ekonomi yang muncul dari program MBG dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang baik, program ini berpotensi menjadi instrumen pembangunan yang memberikan manfaat sosial dan ekonomi sekaligus.
